November 27, 2022
Jawa Tengah
Berita Jelajah

Audit Kasus Hasilkan Formulasi Strategi Tekan Stunting

 PEMALANG – Terjadinya kasus stunting di Kabupaten Pemalang dipengaruhi beberapa faktor di antaranya yaitu, terkait rendahnya hemoglobin (Hb), pola asuh, gizi serta sanitasi lingkungan.

“Stunting ditemukan pada daerah sasaran,penyebab risiko terjadinya stunting ini meliputi beberapa faktor seperti Hb yang rendah, pola asuh yang kurang, konsumsi gizi tidak seimbang, sampai dengan sanitasi lingkungan yang tidak layak,”kata Ketua TP. PKK Kabupaten Pemalang, Shanti Rosalia saat memberi paparan dalam kegiatan Diseminasi Audit Kasus Stunting 2 di Sasana Bhakti Praja, Kamis (10/11/2022).

Atas temuan ini, para pemangku kepentingan stunting di Kabupaten Pemalang kemudian merumuskan sejumlah strategi untuk menekan kasus.

Tindak lanjut dimulai dari kelompok sasaran Anak di bawah Dua Tahun (BADUTA), Calon Pengantin (CATIN), Ibu hamil, dan yang terakhir adalah Ibu Menyusui/Ibu Nifas.

“BADUTA dengan pemberian pangan olahan, keperluan medis khusus secara oral, edukasi pemberian ASI hingga usia dua tahun, pemeriksaan penyakit penyerta, bantuan makanan tinggi protein, edukasi pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) hingga perencanaan pembangunan septic tank dan bantuan rumah layak huni.”ujar Kabid Pembangunan Manusia dan Masyarakat (PMM) Bappeda Kabupaten Pemalang, Titin Soewastiningsih Soebari yang turut menjadi pembicara dalam acara.

“Pada kelompok CATIN, adalah dengan adanya pemberian edukasi, pemberian gizi seimbang, layanan, konseling dan pemeriksaan kesehatan, promosi kesehatan lingkungan, bantuan makanan tinggi protein dan perencanaan pembangunan septic tank dan bantuan rumah layak huni.” lanjutnya.

“Untuk kelompok sasaran ibu hamil, akan diberikan pemeriksaan Hb, pemberian tablet tambah darah, edukasi pemberian gizi seimbang dan kesehatan reproduksi, Antenatal care, PMT Ibu hamil berbasis pangan lokal selama 85 hari dan diukur BB setiap 14 hari, bantuan sembako dan makanan tinggi protein, hingga program terencana bantuan rumah layak huni dan bantuan sosial (Jaring Pengaman Sosial),”imbuhnya.

“Kelompok sasaran Ibu Menyusui/Ibu Nifas akan dilakukan pemberian edukasi kesehatan reproduksi, pemberian gizi seimbang dan tablet tambah darah, edukasi pemberian ASI dan MPASI, bantuan makanan tinggi protein, metode kontrasepsi jangka panjang, administrasi kependudukan hingga bantuan sosial (Jaring Pengaman Sosial).”lanjutnya.

Selain strategi di atas, Shanti juga menegaskan pentingnya mengatasi stunting dari hulu.”Kita jangan hanya berpikir hilirnya saja, karena hilir itu sudah jadi. Seharusnya kita lebih memikirkan dari hulu, bagaimana supaya pencegahan tidak sampai hilirnya berlanjut.”jelasnya.

Menurutnya, pencegahan kasus stunting dari awal bisa dilakukan kepada calon pengantin melalui adanya tracking kesehatan yang lengkap seperti berat badan (BB), tinggi badan (TB), Indeks Massa Tubuh (IMT), Lingkar Lengan Atas (LILA), Hb dan data lain yang dibutuhkan, agar dapat diketahui apakah terindikasi adanya lahirnya anak stunting.

“Jadi lewat ini kita ikuti terus, kita pantau terus perkembangannya, sambil kita berikan stimulasi apa sesuai dengan kondisinya. Jadi ketika dia jadi CATIN, jadi bumil, kita sudah tahu tracking – nya dari awal, dan kesadaran (aware) dari awal dan semoga bisa terapkan untuk menjadikan syarat melalui KUA.”ungkapnya.

Sementara itu terkait dengan progress penanganan stunting, Titin mengungkapkan sudah mengalami kemajuan. “Perlu diketahui bahwa saat ini angka penimbangan kasus stunting di Kabupaten Pemalang pada bulan Agustus sebesar 9,84%, sudah menurun dari tahun 2022 yaitu sebesar 10,35%.” sebutnya.

Pencegahan kasus stunting menjadi salah satu isu penting yang tengah digarap Pemerintah Kabupaten Pemalang, demi terciptanya generasi bangsa yang sehat, dengan kualitas sumber daya manusianya yang lebih baik.

Kegiatan Diseminasi Audit Kasus Stunting diselenggarakan oleh Dinsos KBBP Kabupaten Pemalang bersama dengan Tim Pakar yang terdiri atas Direktur RSUD Dr M. Ashari, Dokter Spesialis Anak, Dokter Obstetri dan Ginekologi, Psikolog, Ketua TP. PKK dan Ketua Persagi Kabupaten Pemalang serta Tim Teknis.

Tim Teknis terdiri dari perangkat daerah yang terkait dengan upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Pemalang, serta Universitas Pekalongan selaku akademisi pendamping.