BeritaJelajah

Warga Ungkap Keseharian Dokter Sunardi : Bisa Nyetir Sendiri dan Menolak Sholawatan

Sukoharjo – Aktivitas keseharian dokter Sunardi, tersangka teroris Sukoharjo diungkapkan warga sekitar tempat tinggalnya. Meski diakui sebagai pribadi yang tertutup, namun dalam menjalani aktivitas sehari-hari bisa dilakukan mandiri tanpa bantuan orang lain.

Hal tersebut diungkapkan oleh Bambang Pujiyono, Ketua RT 03/07 Kelurahan Gayam Sukoharjo, kawasan tempat tinggal dokter Sunardi. Dirinya mengaku sering bertemu usai sholat berjamaah di masjid setempat.

“Pak dokter kalau ke masjid naik mobil, itu disetir sendiri. Turun dari mobil baru jalan pakai tongkat,” ujar Bambang di rumahnya. Sabtu, (12/03).

Dirinya mengaku jarang berkomunikasi dengan dokter Sunardi karena yang bersangkutan merupakan pribadi yang tertutup.

“Selama saya menjabat Ketua RT, Pak Nardi tidak pernah ikut kumpulan warga. Setahu saya dia dokter dan buka praktik di rumahnya,” terangnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Bapak Sabar, tetangga samping rumah dokter Sunardi. Meski berjalan menggunakan tongkat, namun aktivitas sehari-hari berjalan normal.

“Aktivitas biasa, sebagai tetangga paling ketemu ya pas di depan rumah, atau dibelakang pas buang sampah. Dia sering nanam pohon buah-buahan sendiri, ya ngobrol biasa paling seputar tanaman. Kalau jalan ya pakai tongkat, naik mobil  juga bisa nyetir sendiri,” ungkap Sabar.

Terkait interaksi dokter Sunardi dengan warga sekitar juga diungkapkan oleh Gus Arifin, pengasuh pengajian sholawatan, yang pernah bertetangga dekat dengan sang dokter.

Gus Arifin menyampaikan pernah punya pengalaman kurang enak saat menjadi tetangga sebelah rumah tersangka terorisme tersebut.

“Sekitar 2020 saya pernah tinggal di bersebelahan dengan rumah dokter Sunardi, yang sekarang dikontrak pak Syarif. Waktu itu saya dan jemaah pengajian menggelar sholawatan di rumah saya. Dokter Sunardi marah dan mengusir saya dan jemaah,” ujar Gus Arif.

Ditanya penyebab dokter Sunardi marah saat diadakan sholawatan, pria asal Demak menyampaikan bahwa dokter Sunardi tidak menyukai kegiatan sholawatan berjamaah karena dianggap bid’ah dan tidak sesuai kaidah Islam.

Bahkan secara terbuka, dokter Sunardi memukul kentongan saat ada kegiatan sholawatan dan mengajak beberapa remaja untuk menghimbau agar Gus Arifin menghentikan aktivitasnya.

Ditegaskan pula, karena masalah menjadi berlarut-larut, akhirnya pihak RT dan Bhabinkamtibmas turun tangan.

“Waktu itu sudah ada upaya didamaikan oleh ketua RT bersama warga, tapi pak dokter tidak pernah datang. Hanya diwakilkan anaknya, intinya kami diminta untuk pergi dari situ,” jelasnya pria yang juga pernah mondok di Pesantren Blokagung Banyuwangi tersebut.

Tak ingin masalah berkepanjangan, akhirnya Gus Arifin memilih pindah setelah tinggal selama 10 bulan disamping rumah dokter Sunardi.

“Akhirnya saya pindah ke lokasi sekarang ini (samping kantor Pemkab Sukoharjo), meskipun dulu kontrak rumah saya disana masih tersisa dua bulan,” kata Gus Arifin

Secara pribadi, pria setengah baya itu tidak sependapat dengan sikap keras dokter Sunardi. Menurutnya, sikap seperti itu justru tidak mencerminkan ajaran Islam.

Karena itu, dia tidak kaget ketika dokter Sunardi ditetapkan sebagai tersangka terorisme oleh Densus 88.

“Islam mengajarkan rahmatan lil alamin. Artinya kita harus baik sesama orang, memberi contoh yang baik saling tolong menolong. Tidak harus keras jadi harus merangkul semuanya,” pungkasnya.

Related Posts

1 of 20